Cerita Pencuri Yang Bertaubat
Di tengah malam yang sunyi, seseorang terlihat sedang mengendap-endap ke sebuah kandang domba. Dia adalah Fudhail, seorang pencuri yang kerap beraksi di malam hari. Kali ini, dia berniat mencuri seekot domba milik seorang saudagar.
Fudhail Pencuri yang bertaubat ceritakita.web.id |
kegaduhan pun terjadi. Satu per satu domba itu mengembik. Fudhail segera memanggul domba yang sudah terkulai itu dan segera berlari secepat yang dia bisa. Domba itu terasa berat di pundaknya. Tapi Fudhail tidak bisa berhenti. Jika dia ketahuan, maka nyawanya bisa terancam.
Akhirnya, Fudhail bisa pulang dengan selamat. Dia segera menguliti domba tersebut dan memotong-motong dagingnya menjadi beberapa bagian. "Besok pagi aku akan menjual daging domba ini" kata Fudhail. "Namun, aku tidak bisa selamanya mencuri kecil-kecil bagini."
Bertahun-tahun kemudian Fudhail tidak hanya mencuri, namun dia juga merampok dan membunuh. Dia sudah tidak kuat lagi pada hukum manusia. Selama dia tidak tertangkap, maka nyawanya akan tetap aman. Begitulah yang dipikirkan oleh Fudhail.
Orang-orang terdekat Fudhail sudah berkali-kali menyuruhnya kembali ke jalan yang benar. Berhenti mencuri, namun Fudhail tidak pernah mau mendengarkan nasehat itu. "Aku sama sekali tidak takut pada siapapun. Apalagi tuhan yang kalian sembah itu!"
Hari berikutnya, terdengar kabar bahwa seorang saudagar kaya baru saja pindah ke kota mereka. Rumah saudagar itu sungguh besar dan banyak barang-barang berharga didalamnya. Orang bilang, dia adalah pedagang perhiasan yang sangat sukses.
Fudhail sama sekali tidak melewatkan kesempatan emas ini. Dia pun menyusun rencana untuk merampok rumah mewah itu. Setelah semua persiapan siap, Fudhail pun pergi. Dengan mudah, dia memanjat pagar tembok. Kemudian dia bergantung pada sebuah pipa dan meloncat ke lantai dua.
"Celaka! ada penjaga!" teriak Fudhail dalam hati. Dia tidak menyangka jika beranda lantai dua ini dijaga. Dia melihat penjaga itu mondar-mandir dan mengawasi sekeliling dengan teliti. "Tapi, aku sudah terlanjur ke sini. Tidak mungkin aku mundur lagi," kata Fudhail memantapkan hati.
Gerakan Fudhail begitu gesit dan tanpa suara. Dengan mudah, Fudhail melumpuhkan penjaga itu, "Ah, sepertinya aku menusuk terlalu dalam. Apakah dia tewas?" gumam Fudhail. Sebenarnya dia sudah sering membunuh, namun akhir-akhir ini dia merasa tidak tenang jika membunuh tanpa rencana seperti ini.
Fudhail meninggalkan penjaga itu dan berjalan menuju jendela, bermaksud untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar sebuah suara yang merdu. "Apa ini? Larut malam begini masih ada yang terjaga? Dan bernyanyi dengan sekeras itu?" umpat Fudhail. Dia tidak mengira kalau rencanya akan berantakan seperti ini.
Fudhail terpukau, dia muali mengenali apa yang dinyanyikan oleh si pemilik rumah. Itu bukanlah nyanyian, melainkan bacaan Al Quran. Fudhail sudah sering mendengarnya, namun, sampai saat ini dia tidak pernah tertarik sedikitpun. Namun kali ini berbeda suara itu begitu merdu dan terdengar fasih. Sungguh meluluhkan hati.
Fudhail tidak kuasa berlama-lama disana. Dia pun segera pergi. Di tengah jalan, Fudhail berhenti di sebuah reruntuhan. Dia bersembunyi di sana dan mulai terisak. Ya Tuhanku, ya Rabb! Aku sungguh berdoa, Aku sungguh berdoa, Sudah terlalu lama aku mengabaikan-Mu. Akankah engkau mengampuniku jika aku bertaubat sekarang?
Setelah itu, Fudhail pergi ke khufah untuk belajar agama. Dari ulama-ulama besar di sana. Fudhail berhasil menguasai ilmu dalam waktu yang singkat. Hingga akhirnya, beliau menjadi salah satu dari ulama besar yang ahli dalam ilmu hadist.